Jarak yang membentang rindu
lagi-lagi tentang rindu
Sejatinya jarak ini
mencipta rindu antara kita
Bagaimana harus kita bertemu?
Rindu...
adalah sebuah perantara
agar insan lemah seperti kita
berdoa pada maha kuasa
ia adalah asbak
pertemuan setelah perpisahan menghukum kita...
Dan rindu
Menyedarkan kita untuk kembali
pada hakikatNYA..
Hakikat yang kita adalah hamba ALLAH.
* * *
Tatkala rasa digelumangi kehibaan
Kesepian semakin menggunung di dalam jiwa
Aku seperti terpuruk di kota hiruk-piruk ini
Menelan sebuah rasa yang sukar dimengertikan...
Kekadang aku meraung tanpa suara
Menepuk dada menahan keperihan yang tak tertanggung
Airmata berlinangan tanpa dikesat...
Esakanku mulai bergema di sudut kemalapan bilik
Takdir yang indah,takdir yang menduga jiwa wanitaku,
Kesepian ini takkan pudar...
Kakiku mulai berkematu berdiri tanpa arah langkah
Terhenyak di tengah pelabuhan dilema
Istikharah Allah tak pernah disujud
Apalah nasib diri yang menelan kehinaan tak berpenghujung
Terlupa kembalinya kemana...
Hanya melayan tangis menyakitkan
Kekadang memohon simpati untuk difahami..
Tinggal kebuntuan menyelimuti raga yang kosong...
Helaan nafas yang semakin berat.
Seberat kehidupan ini..
Tolong temani ragaku....
* * * * *
Kerinduan yang mengundang debar
Detak jantung kian bergetar
dalam sedar tak sedar
khabar demi khabar menghampiriku
Terujaku dalam hiba
detak bimbang menghimpit hati..
Andai tak ada pertemuan
untuk kita...
Jiwaku akan mati diulit kekesalan
sepanjang hayat..
Hari ini adalah rahmat bagi hamba
Tuhan yang Esa masih mengasihi kita
Sekeping potret mengubat kerinduan
tapi...
Juga menambah sesak di hati menahan tangis
Aku duduk di kegelapan malam
mengenang takdir yang tak seindah difikir
Suara ketikan telefon bergema
memberi khabar pada hamba Allah
yang mengasihi diri ini...
Tangisku pecah tanpa suara di keheningan malam
ditemani senandung sang pungguk
Melepaskan sesak yang terpendam
Aku terlelap dalam sedu-sedan yang hiba...
sang cengkerik setia mendendangkan syair di malam panjang...
* * * * * *
Langkah yang berat menjejak ke kota
Sambil mengenang separuh memori yang sukar terpadam
Langkahku semakin berat melihat wanita malam
Hidup di lorong-lorong sunyi
di tengah-tengah kota penuh pancaroba
Hidup yang tak tentu arah
Para lelaki hanya hinggapi tubuhmu
menghisap segala madu
Diberi pemuas nafsu
wanita malam...
Permata mahal dari kedesaan
Terjebak dalam keterpurukkan hidup kota
menjadi wanita malam mungkin bukan mimpimu
mandian kemewahan membuatmu alpa pada realiti dunia...
Kau tetap dengan lukisan opera diwajah
hentakkan tumit tinggi memecah keheningan malam
Banyak pandangan hina melihatmu
wanita malam tak pernah kisah
tetap bersama lelaki hidung belang
di gerai kelipan bintang
aroma minuman menggilakan buat sesiapa meminumnya
nyanyian yang gegak gempita
Nur mentari saja seakan tak pernah kau rasai
Kau terus hanyut dalam imaginasi katanya kebahagian
dirimu sudah tak dikenal
satu persatu lelaki datang dan pergi darimu
kau terus dengan gelar wanita malam
sampai bila harus bertahan?
-Bakso Primadona
-16jan22/17jan22